Langsung ke konten utama

Lovable



We’re not always lovable. 
Sometimes we’re too stressed that we tend to
Shout, get uncontrollably angry, 
Shut people out or disappear until we cool down 

So appreciate the ones who love you even when you aren’t that lovable. 
They’re not forced to accept you in such a state, yet they do, and they stay. 

May we all have someone who loves us with all our moods. And if you do, you’re lucky.






Terima kasih sudah mampir
Love, Octa ❤

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Musim Panas 2011

Mengenang Kenangan dan Kehilangan Nama kami sama-sama terdiri dari tiga kata, huruf depan kata pertama dan kedua, juga sama. Jika ditanya tentangnya, aku tak betul-betul tau, sebab jarak sudah memisahkan kita bertahun-tahun lamanya. Yang paling kuingat, sore hari di pertengahan 2011. Saat itu sedang kemarau, langit sedang senang membakar kepala kami. Dia tergesa-gesa menghampiriku di bawah pohon jambu, kemudian meminta maaf sebab ia terlambat. "Maaf, aku baru terbangun, sudah lama?" Intonasi suaranya sangat khas, setiap kata ia tekan, sehingga sering kukira ia marah. "Baru sampai juga." Aku berbohong, aku sudah menunggu hampir setengah jam, sengaja agar ia tak merasa bersalah. "Aku tidak mandi." Ia mengatakan itu semacam sesuatu yang harus dibanggakan. "Tapi masih harum, soalnya pakai parfum Ibu," sambungnya. "Bukannya tadi di sekolah sudah puas bermain?" tanyaku. "Belum puas, istirahatnya cuma 15 menit....

Tiga Jari

Kuangkat tiga jari, kau mengangguk mengikuti. Aku terlambat mengerti sedang kau sudah lama belajar memahami, kau menjadi pengabai sebab telah lama kau menahan pedih dan sakit hati. Apa pun tentang kehilangan kini tak lagi berarti, bertahun kau menangisi. Aku masih mencari pagi sementara kau melambai pada senja di ujung bumi. Seperti kau yang kadang-kadang bingung dengan langitku yang mendung dan langit di atasmu matahari masih sibuk menggantung. Kau sudah di ujung, kaki kecilku masih terluntang-lantung mencari pijakan sama bingung—ke mana aku akan dituntun? Kau adalah kau yang membenci sendiri dan sedang mencari kursi untuk duduk bersama menikmati sepi. Akan kutemani, kita akan bercerita sepanjang malam hingga pagi. Ceritakan apa pun, tanpa terkecuali. Aku punya beberapa kenangan dan kau suka mengenang, kemarilah. Kita bisa berdiam di kekosongan, ceritakan padaku apa yang membuat api di sekujur hatimu padam hingga di sekitarnya hanya ada temaram, dingin menikam, dan...

It's Getting Late

"Sudah larut, kau mungkin ingin pulang." Api rokok itu ia matikan setelah aku bertanya, meneguk habis sisa wiski di gelas yang tersisa, kemudian beranjak dan meraih pemantik di atas meja. Kayu itu ia nyalakan, ruangan sempit ini semakin hangat dan menyedihkan, dengan warna api nyalang di sisi-sisi dinding berwarna putih tulang. Lalu Ia kembali duduk di depanku, membelakangi perapian, terlihat gelisah dan aku yang ingin sekali bertanya, seharusnya ia sudah pulang. "Malam ini aku akan menginap." Aku berdiri mengambil sebuah piringan hitam, memutarnya dengan suara pelan. Lagu itu berlarian di atas lantai, meredam hujan, beriringan dengan ketukan kakinya, matanya ia pejamkan. "Kucing-kucingmu, mereka menunggumu di rumah. Mereka mungkin sedang bersembunyi, di luar hujan turun deras sekali, mereka takut hujan, 'kan?" "Di sini ada kucing besar yang lebih penakut." Aku mengiriminya pesan tepat saat langit mulai terlihat murung, dan angin mulai menget...